Etika di Dunia Digital: Mengasihi Sesama dengan Perkataan

Minggu Paskah 4-IV/45/Minggu,22 April 2018

Kisah Para Rasul 4:5-12, I Yohanes 3:16-24, Yohanes 10:11-18

Tuhan Yesus memberikan perumpamaan mengenai gembala, karena hal itulah yang bersentuhan langsung dengan kehidupan banga Israel. Dimana didalam kehidupan bangsa  Israel mereka mengenal gembala domba yang  baik, yaitu gembala yang mengembalakan domba – dombanya bahkan mengorbankan nyawanya untuk membela domba dari serangan binatang buas dan gembala domba yang jahat, yaitu hanya sebagai orang upahan. Dari perumpamaan ini bangsa Israel pasti akan tahu bahwa kasih yang diberikan Tuhan Yesus kepada umat manusia adalah sebuah kasih yang luar biasa, kasih yang mau berkorban demi umat manusia.

Kepada anak – anakNya, yaitu kita yang hidup pada saat ini, tentu diminta untuk memberikan kasih kita kepada sesama kita. Untuk mengasihi, kita belajar mulai dari hal yang sederhana yaitu mengasihi melalui perkataan kita yang kita ungkapkan dalam bahasa. Arti bahasa bisa sangat luas, bahkan melampui dari kata – kata (suara/bunyi) karena bisa berbentuk gerak gerik, tanda, simbol bahkan dalam bentuk raba (huruf braille), yang penting adalah ada kesepakatan dalam mengartikannya. Dalam hal ini, maka bahasa bisa diartikan sebagai sistem logis yang menguasai manusia. Manusia tidak bebas atau leluasa menggunakan sekehendak hatinya. Dia harus tunduk mengikuti aturan gramatika dan sintaksis agar bisa dipahami. Bahasa mejadi sarana yang paling alami bagi manusia untuk komunikasikan diri atau mengekpresikan diri.

Bahasa muncul bersamaan dengan keberadaan manusia. Jika bahasa dianggap sebagai tekhnik maka kita mengenal berbagai modelnya : orasi, khotbah, renungan, puisi, dialog, diplomasi, juga termasuk Hoax yang sekarang sedang menjadi – jadi. Tetapi hoax menjadi semacam tekhnik distortif karena tidak menyampaikan kebenaran.

Supaya kita dapat menyampaikan perkataan kita dengan baik, maka diperlukan sebuah kesepakatan. Bahkan dalam perkataan yang kita sampaikan jangan sampai menyembunyikan yang baik tetapi mengobarkan yang dirasa kurang baik. Tugas menjadi gembala adalah tugas bagi setiap orang percaya. Sehingga dengan saling mengembalakan, maka akan terbentuk umat Allah yang saling mengasihi dan menguatkan.

-NEA-

Tinggalkan komentar