Minggu Biasa-IV/51/Minggu, 3 Juni 2018

Ulangan 5:12-15; Mazmur 81:1-10; 2 Korintus 4:5-12; Markus 2:23-3:6

Menurut  Ulangan 23:25 “Apabila engkau melalui ladang gandum sesamamu yang belum dituai, engkau boleh memetik bulir-bulirnya dengan tanganmu, tetapi sabit tidak boleh kau ayunkan kepada gandum sesamamu itu.” Hanya saja, jangan dilakukan pada hari Sabat. Untuk menjaga kekudusan hari sabat maka para pemuka agama Yahudi membuat ribuan aturan mengenai sabat. Semua pekerjaan dilarang untuk dilakukan. Pekerjaan telah dikelompokkan menjadi 39 pokok ketentuan dan 4 diantaranya adalah memanen, menampi, mengirik dan mempersiapkan makanan. Dengan perbuatan para murid, itu artinya mereka telah melanggar keempat  aturan ini, yang bagi orang Yahudi adalah suatu dosa yang mematikan. Oleh karena itu orang–orang Farisi langsung melancarkan tuduhan bahwa mereka telah melanggar Taurat dan meminta supaya Tuhan Yesus menghentikan mereka.

Tuhan Yesus menjawab mereka dengan kisah Daud yang menyelamatkan diri dan datang kerumah Allah di Nob. Daud membutuhkan makanan, tetapi yang ada hanya makanan sajian. Menurut keluaran 25:23–30, roti sajian terdiri dari 12 ketul dan ditaruh di atas meja terbuat dari emas , Roti ini sebagai persembahan kepada Allah dan roti ini diganti seminggu sekali. Bila sudah ada penggantinya, maka roti lama ini hanya boleh dimakan oleh para Imam. Tetapi Daud mengambil dan memakan roti tersebut. Tuhan Yesus berkata : “Hari sabat dibuat untuk manusia, bukan manusia untuk hari sabat”. Manusia bukan diperbudak hari sabat, hari sabat ada dengan maksud agar kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Kapanpun manusia melupakan kasih dan pengampunan serta pelayanan dan kemurahan yang merupakan inti agama dan menggantikannya dengan pemenuhan aturan dan ketentuan, pada saat itu agama sudah mengalami kemunduran. Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita hukum yang terutama yaitu: Kasih.

NEA-