Minggu Biasa-IV/52/Minggu, 10 Juni 2018

Kejadian 3:8-15; Mazmur 130; 2 Korintus 4:13-5:1; Markus 3:20-35

Menjadi hal yang sangat wajar, jika orang pada masa muda akan memikirkan masa depannya. Mulai memikirkan pekerjaan yang akan dijalani, tekun melakukan pekerjaannya, supaya melalui pekerjaan itu dapat menghasilkan uang yang dapat dipergunakan untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, hampir semua orang akan memilih pekerjaan yang dapat  menghasilkan  uang yang cukup, dan tidak akan memilih pekerjaan yang sulit untuk menghasilkan uang. Masa yang paling tepat untuk menghasilkan uang adalah pada masa produktif. Hal inilah yang diharapkan oleh keluarga Yesus (keluarga di dunia), bahwa pada masa muda seharusnya mulai memikirkan masa depan. Baik masa depan diri sendiri maupun masa depan keluarga dan berusaha untuk tidak membuat masalah, apalagi membuat masalah dengan orang–orang yang mempunyai kedudukan. Tetapi apa yang menjadi harapan keluarga, lain dengan apa yang dilakukan oleh Yesus. Justru Dia melakukan hal yang sangat bertolak belakang, seakan-akan tidak memikirkan masa depan dirinya. Setiap hari hanya duduk dan menasehati dan menolong orang lain yang sama sekali tidak menghasilkan uang. Bahkan berani mengkritik para penguasa Bait Allah. Tak seorangpun yang dapat menang ketika mengkritik ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Markus 3:21 “Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.” Inilah tuduhan keluarga Yesus, siapapun ketika melakukan tindakan yang tidak sejalan dengan pemikiran secara umum, maka akan mudah dituduh sebagai orang yang tidak waras. Dalam hal ini Yesus menghadirkan cara berpikir yang baru, yaitu bukan hanya memikirkan kehidupan didunia ini saja, ada hal lain yang juga harus dipikirkan yaitu mengenai keselamatan. Oleh karena Yesus mempunyai kemurnian hati didalam melaksanakan tindakanNya, maka Dia tetap berkarya memberi pencerahan kepada yang sedang dalam kegelapan. Tidak berhenti berkarya hanya gara-gara dibilang “tidak waras lagi”.

-NEA-