Minggu Biasa-V/4/Minggu, 8 Juli 2018

Yehezkiel 2:1-5; Mazmur 123; 2 Korintus 12:2-10; Markus 6:1-13

Menurut kejadian 2:7, Allah menciptakan manusia dari debu tanah. Disini hendak diungkapkan bahwa pada dasarnya manusia itu penuh dengan kelemahan. Tetapi disisi lain, Allah menghembuskan nafas kehidupan sehingga manusia yang terbuat dari debu tanah itu bisa hidup dan berkarya. Memang diakui manusia terbuat dari debu tanah tetapi ada Tuhan menghembuskan nafas kehidupanNya, kelemahan atau kekurangan manusia dilengkapi oleh Tuhan. Sehingga manusia tidak bisa lepas atau tidak bisa jauh dari Tuhan.

Sang Pemazmur menggambarkan sikap manusia kepada Allah adalah bagaikan hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya dan hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya. Bukankah hamba (budak) harus taat sepenuhnya kepada sang Tuan? jika tangan tuan menunjuk kesuatu arah, maka kesanalah si hamba akan pergi sesuai dengan perintah sang tuan. Seorang hamba (budak) tidak mempunyai hak untuk membantah atau melawan perintah sang tuan.

Rasul Paulus mempunyai pemahaman didalam 2 Korintus 12:5 “Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku”.  Menurut Rasul Paulus, justru kekuatannya adalah didalam kelemahannya. Sebab, ketika Rasul Paulus merasa lemah dan tak berdaya, maka dirinya akan senantiasa bersandar kepada Tuhan. Bukan hanya bersandar, tetapi mengandalkan Tuhan dalam setiap perkara. Tanpa harus dibayangi bahwa dirinya kuat dan mampu melakukan segalanya.

-NEA-