MINGGU BIASA-V/7/MINGGU, 29 JULI 2018

2 Raja-raja 4:42-44; Mazmur 145:10-18; Efesus 3:14-21; Yohanes 6:1-21

Tuhan Yesus menjadi daya tarik tersendiri bagi orang–orang Yahudi. Karena Tuhan Yesus bisa melakukan hal–hal yang ajaib. Menyembuhkan orang sakit, orang buta bisa melihat kembali, orang lumpuh bisa berjalan. Sehingga  orang- orang berduyun–duyun datang mengikuti Dia. Orang–orang mengikuti Tuhan Yesus karena mereka telah melihat mukjizat-mukjizat yang telah terjadi dan sudah bisa dipastikan bahwa mereka mengikuti Tuhan Yesus karena ingin melihat hal-hal yang ajaib itu.

 

Jika alasan mengikut Tuhan Yesus karena “ingin melihat mukjizat” yang berkenaan dengan hal–hal yang jasmani yaitu sembuh dari sakit, sembuh dari kelumpuhan, orang tuli mendengar, maka ketika kita membatasi mukjizat Tuhan Yesus hanya berkenaan dengan hal–hal yang jasmani saja, maka iman seperti ini akan mudah sekali goyah. Bukankah Tuhan Yesus bisa melakukan mukjizat dalam hal apapun?

Bukankah sebuah mukjizat, ketika kita mengikut Tuhan Yesus, hati kita menjadi penuh dengan sukacita, hati kita bisa menerima keadaan hidup dengan segala pergumulan dan permasalahannya dan bisa menjalani dengan penuh sukacita? Dibutuhkan sikap percaya kepada Tuhan Yesus supaya kita bisa merasakan penyertaanNya, bukankah kita lebih beruntung jika hidup kita disertai oleh Tuhan? jadi ikut Tuhan Yesus bukan hanya sekedar mengejar mukjizat tetapi supaya hati kita senantiasa percaya bahwa Dia menyertai kita sampai selama-lamanya.

-NEA-