Minggu Biasa – V/10/Minggu, 19 Agustus 2018

Amsal 9:1-6; Mazmur 34:9-14; Efesus 5:15-20; Yohanes 6:51-58

 

Sabda Tuhan didalam Efesus 5:15  Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,  kehidupan sebagai anugerah Tuhan, sudah selayaknya untuk dijalani dengan penuh kehati-hatian supaya kehidupan tidak berlalu dengan sia-sia. Seorang filsuf yang bernama Sokrates juga pernah berkata bahwa hidup yang tidak diperiksa tidak layak untuk dihidupi. Salah satu cara untuk memeriksa kehidupan, yaitu dengan cara bertanya dalam perenungan. Dengan bertanya, kita akan menyadari bahwa hidup ini adalah sebuah anugerah yang besar, sehingga kita akan bisa hidup dengan penuh ucapan syukur dan bisa menerima apapun yang sedang dijalani dalam hidup ini tanpa berkeluh kesah, bahkan masih mau menolong sesama.

Mengenai sikap menerima kehidupan, Origenes mengutip anekdot dari Celsus yang bercerita sebagai berikut : “Contohlah Epiktetos, yang ketika kakinya dipelintir oleh tuannya hanya tersenyum tak bergerak dan berkata ‘Tuan akan mematahkan kaki saya’; dan ketika kakinya benar – benar patah, Epiktetos menambahkan ‘Bukankah sudah katakan kalau tuan akan mematahkannya?’. Sepanjang hidupnya, ia pincang”. Meskipun Epiktetos mengalami penderitaan, tetapi dia bisa menerima kenyataan yang sedang dijalaninya tanpa kehilangan sukacita. Terkadang kehidupan itu dilukiskan bagaikan binatang yang diikatkan pada kereta, ia hanya bisa memilih:  mengikuti kereta dengan gembira atau diseret – seret dengan semena-mena. Yang jelas dia harus terus mengikuti kereta yang mengikatnya. Terimalah setiap kenyataan kehidupan dengan penuh kegembiraan. Bukankan Tuhan didalam Efesus 5:20 bersabda “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita

Ketika hidup kita bisa mengucap syukur atas segala hal, maka tanpa disadari hidup kita akan memberi kekuatan bagi orang – orang yang ada disekitar kita. Orang lain langsung melihat contoh nyata dalam menjalani kehidupan tanpa harus mendengarkan nasehat yang panjang lebar. Ada orang bijak yang berkata “ janganlah mengguyur orang-orang bodoh dengan prinsip-prinsip filosofis; kalau kamu memang sudah mencernanya sendiri, tunjukanlah hal itu dalam tindakan– tindakanmu”.  Jika kita sudah makan roti hidup (Firman Tuhan) dan mencerna dengan baik, maka kita akan bisa hidup dengan penuh sukacita. Dengan hidup yang penuh sukacita, siapa tahu kita bisa memberi contoh kepada sesama, sehingga yang lemah bisa dikuatkan dan yang putus asa mempunyai pengharapan.

-NEA-