MINGGU BIASA-V/12/Minggu, 2 September 2018

Ulangan 4:1-2, 6-9; Mazmur 15; Yakobus 1:17-27; Markus 7:1-8, 14-23

Setiap kali kita berupaya mempengaruhi pikiran, perilaku atau perkembangan seseorang, entah secara pribadi atau secara profesional, kita sedang memainkan peranan pemimpin. Contoh pelaksanaan kepemimpinan: seorang kakak menyimak dan menolong pemahaman adiknya, seorang tentara melatih anak buahnya, seorang rekan menasehati teman dekatnya, seorang anak menghibur orang tuanya, seorang yang mencapai kesepakatan untuk menangani masalah bersama dengan pacarnya, seseorang mengubah pola kerja di kalangan pemuda gerejanya.

Dikisahkan dalam Markus 7:1 “Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus.” Orang Farisi dan Ahli Taurat sebagai pemimpin agama Yahudi tidak bisa tinggal diam ketika melihat murid – murid Tuhan Yesus makan tanpa cuci tangan. Sebab bagi kalangan orang Yahudi, makan tanpa cuci tangan adalah hal yang melanggar adat. Sehingga jika dibiarkan akan mempengaruhi orang–orang Yahudi yang lain. Hal ini dilakukan tentu tidak mempunyai maksud untuk menimbulkan huru hara atau merusak pemahaman bangsa Yahudi.

Oleh karena itu, ketika Orang Farisi dan Ahli Taurat mendatangi dan menegur Tuhan Yesus dan murid–murid, Tuhan Yesus mempunyai kesempatan untuk melakukan “pembinaan” kepada mereka. Karena dalam menjalankan kepemimpinan, orang Farisi dan Ahli Taurat.

Tuhan Yesus menegur mereka dalam Markus 7:7–8 “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”

Tuhan Yesus menegur Orang Farisi dan Ahli Taurat bahwa dalam menjalankan kepemimpinan terhadap bangsa Yahudi, mereka tidak memiliki integritas. Artinya dalam menjalankan kepemimpinan mereka tidak memiliki kesamaan antara apa yang diucapkan dan dilakukan. Mereka membiarkan orang – orang yang memiliki hati yang jahat, asal mereka tetap setia menjalankan adat istiadat.

Tentu yang diharapkan adalah, apa yang ada dalam hati yaitu mengenai kebaikan, maka akan terpancar dari kehidupan sehari – hari. Sehingga benarlah istilah “Verba docent exempla trahunt” yang kurang lebih artinya “Kata kata itu mengajar tapi teladan itu menyentuh hati”

-NEA-