MINGGU BIASA-V/13/Minggu, 9 September 2018

Yesaya 35:4-7; Mazmur 146; Yakobus 2:1-17; Markus 7:24-37

Arti kata empati dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain;” sehingga dengan demikian, kepemimpinan empatik adalah pemimpin yang menempatkan dirinya bukan diluar komunitas tetapi menempatkan dirinya ditengah-tengah yang dipimpinnya dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh komunitas yang dipimpinnya. Atau dengan kata lain menjadi pemimpin yang berbela rasa. Hatinya mudah memberi belas kasihan kepada yang dipimpinnya.

Tuhan Yesus memberikan contoh nyata dalam hal kepemimpinan yang berempatik. Bukan pemimpin yang mempunyai keinginan untuk disambut, pemimpin yang menghindari ketenaran dan pengakuan. Sehingga setiap kedatangan-Nya selalu dirahasiakan, meskipun dirahasiakan, kedatangan Tuhan Yesus selalu diketahui oleh orang banyak. Oleh karena orang banyak sudah datang kepada-Nya maka meskipun badan lelah, Tuhan Yesus tetap menyambut mereka dengan penuh sukacita. Tuhan Yesus memenuhi harapan orang, yaitu ketika datang adalah ingin disambut.

Penyambutan Tuhan Yesus bukan penyambutan yang basa – basi atau sekedar pencitraan. Tetapi sebuah penyambutan yang dilakukan dengan sepenuh hati.  Terbukti, bahwa Tuhan Yesus memperhatikan kebutuhan orang – orang yang dipimpin-Nya. Ketika seorang perempuan Siro-Fenisia yang bukan orang Yahudi datang memohon pertolongan-Nya, maka Tuhan Yesus mau memberikan pertolongan, tanpa membedakan apakah orang tersebut Yahudi atau bukan.

Apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus menjadi teladan bagi kepemimpinan kristiani. Yaitu menjadi pemimpin yang melayani, pemimpin yang mudah tergerak hatinya oleh belas kasihan.

-NEA-