MINGGU BIASA-V/18/Minggu, 7 Oktober 2018

Kejadian 2:18-24; Mazmur 8; Ibrani 1:1-4, 2:5-12; Markus 10:2-16

Ketika Tuhan Yesus sedang dalam perjalanan, datanglah orang Farisi dan mengajukan pertanyaan kepada Tuhan Yesus. Sudah bisa diduga bahwa pertanyaan orang Farisi bukan karena ingin tahu, tetapi ingin menjebak Tuhan Yesus, sehingga mereka mempunyai alasan untuk menuduh dan mempersalahkan Tuhan Yesus. Pertanyaan yang diajukan sangat sulit yaitu: “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?“. Berdasarkan Ulangan 24:1 “Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya,” maka hukum Yahudi memperbolehkan seorang menceraikan istri jika istrinya “ tidak senonoh”. Tetapi kata “tidak senonoh” menjadi sulit untuk ditafsirkan. Karena ada Bangsa Yahudi yang menafsir tidak senonoh adalah perzinaan, tetapi ada juga yang “berjalan mondar–mandir” dianggap tidak senonoh. Pada dasarnya Ulangan 24:1 adalah untuk situasi sementara, karena kedegilan bangsa Israel.

Tuhan Yesus mengutip peraturan Musa mengenai perceraian, lalu Tuhan Yesus menambahkan bahwa Musa memberi ijin perceraian karena ketegaran hatimu.

Tuhan Yesus hendak menegaskan bahwa menurunnya moralitas seksual harus dihentikan. Orang yang akan menikah karena alasan ingin bersenang-senang harus diingatkan bahwa dalam pernikahan ada tanggung jawab. Juga harus diingatkan bahwa pernikahan adalah kesatuan rohani.

Jadi pernikahan adalah bersifat permanen, jika sudah disatukan maka tidak ada lagi hukum manusia yang bisa memisahkan ikatan perkawinan tersebut.

-NEA-