MINGGU BIASA-V/19/Minggu, 14 Oktober 2018

Amsal 5:6-7, 10-15; Mazmur 90:12-17; Ibrani 4:12-16; Markus 10:17-31

Ketika ada seorang muda yang kaya datang dengan berlari – lari dan bertelut dikaki Tuhan Yesus sambil berkata “Guru yang baik”. Tuhan Yesus balik bertanya “mengapa kau katakan Aku baik?”. Hal ini ditanyakan-Nya sebab orang muda ini ketika datang kepada Tuhan Yesus sedang dalam keadaan emosi yang sedang meluap – luap. Sebab seseorang tidak bisa datang kepada Tuhan Yesus dengan perasaan sentimental. Orang harus datang kepada Tuhan Yesus dengan penuh kesadaran akan segala resiko yang akan dihadapinya dan percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup memberi kekuatan.

Pemuda kaya ini, menjelaskan kepada Tuhan Yesus mengenai kehidupan agamanya, yaitu dengan tekun mengikuti hukum Taurat. Bagi pemuda kaya ini, menjalankan Taurat atau aturan agama sudah dianggap cukup bahkan bisa dikatakan istimewa. Tetapi Tuhan Yesus mempunyai nilai bahwa ikut ajaran-Nya adalah harus melakukan sesuatu. Maka Tuhan Yesus memberi tantangan kepada pemuda kaya ini dengan melakukan sesuatu kepada sesamanya dengan mempergunakan hartanya. Tetapi sayang, pemuda ini mundur teratur sebab hartanya sudah begitu banyak.

Pemuda kaya ini ternyata lebih rela memberikan hatinya kepada harta bendanya daripada memberikannya kepada Tuhan Yesus.  Benarlah ungkapan “seratus orang dapat tahan uji oleh kesengsaraan, tetapi hanya satu orang yang tahan uji terhadap kemakmuran” karena kemakmuran akan dengan cepat membawa orang kepada sombong, bangga, berpuas diri dan bersikap duniawi.

Supaya kerajaan Allah dapat kita nyatakan kepada dunia, hendaknya kita memanfaatkan harta kita untuk menolong sesama, bukan memanfaatkan sesama untuk menambah nambah harta kita.

-NEA-