MINGGU BIASA-V/20/Minggu, 21 Oktober 2018

Yesaya 53:4-12; Mazmur 91:9-16; Ibrani 5:1-10; Markus 10:35-45

Hampir sebagian besar orang, ingin diakui keberadaannya. Supaya mendapat pengakuan, maka orang berlomba – lomba untuk menjadi yang “ter” dibanding sesamanya. Tercantik, terganteng, terajin, terpandai, terkaya dan masih banyak ter-ter yang lain. Biasanya orang akan suka dan bangga ketika dibilang : “kamu orang yang tercantik di desa ini”, “kamu orang yang terkaya dikota ini”. Hampir dikatakan tidak ada yang mau mengalah, semakin bisa menyingkirkan lawan-lawannya maka semakin terbuka untuk menjadi yang “ter” dibanding yang lain.

Tentu saja situasi seperti itu, tidak pernah akan membawa damai, tidak pernah mendatangkan kebahagiaan. Karena selalu diwarnai dengan persaingan yang bisa berujung kepada perselisihan dan saling menjatuhkan.

Oleh karena itu, Tuhan Yesus membawa sebuah pemahaman yang baru. Tuhan Yesus bersabda didalam Markus 10:43–44  “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.” Untuk menjadi yang terbesar, dunia menggunakan alat ukurnya adalah kekuasaan. Semakin berkuasa, maka orang tersebut akan semakin besar dibanding yang lain. Tetapi Tuhan Yesus memberi pemahaman baru, bahwa untuk menjadi terbesar, maka dia harus mau menjadi pelayan bagi yang lain. Sehingga dengan sikap memberi diri, maka tidak akan terjadi persaingan dan tidak akan saling membinasakan. Sehingga akan tercipta kedamaian dan persaudaraan. Bukankah semua manusia menyukai kedamaian?

Marilah kita memberi diri kita untuk menjadi pelayan bagi sesama dalam menjaga perdamaian. Tuhan memberkati.

-NEA-