MINGGU BIASA- V/22/Minggu, 4 November 2018

Ulangan 6:1-9; Mazmur 119:1-8; Ibrani 9:11-14; Markus 12:28-34

Hukum diadakan sebagai alat untuk menuntun bangsa Israel supaya mereka tidak salah jalan. Dengan adanya tuntunan maka bangsa Israel tidak akan ragu – ragu dalam bertindak, tidak ada lagi ketakutan jika salah. Asal apa yang dilakukan sesuai dengan hukum yang sudah ditetapkan, maka mereka sudah berada didalam jalan yang  benar. Oleh karena berada dijalan yang benar maka  bangsa Israel tidak akan hidup dalam ketakutan atau keraguan, tetapi akan hidup dengan penuh sukacita dan penuh semangat.

 

Tetapi dalam perjalanan kehidupan umat Israel, hukum yang tadinya diberikan kepada Bangsa Israel untuk menjadi sumber sukacita, sekarang menjadi hukum yang sangat membelenggu bangsa Israel. Bahkan hukum yang diberikan oleh Tuhan, dikembangkan menjadi hukum yang sangat detail. Bahkan sampai urusan berjalan dihari sabat akan menjadi masalah besar jika tidak ditaati dengan benar, bahkan orang sakitpun dilarang diobati ketika hari sudah menginjak Sabat. Hukum yang pada awalnya sangat menghargai manusia tetapi sekarang sudah menjadi hukum yang tidak memanusiakan manusia. Para petinggi di Bait Allah seakan – akan membawa manusia untuk dekat kepada Tuhan, tetapi justru sebaliknya. Dengan melupakan sesama, maka akan sulit untuk berjumpa dengan Tuhan.

Ketika Tuhan Yesus ditanya, hukum manakah yang terutama? maka Tuhan Yesus menjawab bahwa mengasihi Allah dan mengasihi sesama adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Sehingga hukum yang dijalankan adalah hukum yang menjaga umat untuk berjalan di jalan yang benar, tetapi jangan sampai menindas sesama yang ada disekelilingnya.

-NEA-