MINGGU BIASA-V/23/Minggu, 11 November 2018

1 Raja-raja 17:8-16; Mazmur 146; Ibrani 9:24-28; Markus 12:38-44

Dalam agama suku, supaya bisa mendapat rezeki maka orang – orang memberikan persembahan kepada yang dianggap berkuasa. Jika tidak memberikan persembahan maka “yang disembah” akan marah dan tidak mau memberikan rezekinya, tetapi sebaliknya akan memberikan malapetaka. Oleh karena itu tidak mengherankan jika ada banyak bentuk upacara pemberian persembahan yang disebut dengan sesaji  kepada “yang disembah”. Maka tidak mengherankan dalam agama suku berkembang konsep semakin banyak memberi kepada “yang disembah” maka akan semakin banyak mendapat rezeki.

Tentu saja konsep seperti di atas yang dianut oleh agama suku, tidak dapat kita bawa atau kita terapkan dalam kehidupan iman kita kepada Kristus. Karena Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang tidak dapat dipengaruhi oleh manusia. Bukan Tuhan yang marah karena tidak diberi persembahan, atau Tuhan yang bersukacita karena telah diberi persembahan.

Ketika ada janda miskin yang memberi persembahan 2 peser, Tuhan Yesus berkata kepada para murid-Nya. Bahwa persembahan janda miskin itulah yang paling besar diantara persembahan yang diberikan pada saat itu. Alasannya : karena janda miskin itu telah memberikan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Artinya pengucapan syukur janda miskin ini adalah pengucapan syukur yang tidak dibayang-bayangi oleh kekhawatiran apalagi hitung-hitungan dengan Tuhan. Janda miskin memberikan persembahannya sebagai ungkapan syukur tanpa diembel-embeli harapan untuk mendapat “pengembalian dari Allah yang lebih besar lagi”. Karena janda miskin ini percaya bahwa Tuhan senantiasa memberikan pemeliharaan kepada umat-Nya.

-NEA