MINGGU SETELAH NATAL-V/29/Minggu, 30 Desember 2018

1 Samuel 2:18-20, 26; Mazmur 148; Kolose 3:12-17; Lukas 2:41-52

Manusia diciptakan Allah dengan sungguh amat baik. Sehingga dapat dikatakan bahwa semua potensi sudah diberikan kepada manusia. Tentu saja potensi yang Allah berikan adalah potensi yang baik.  Tetapi sayang, dalam perjalanannya manusia jatuh dalam dosa. Sehingga potensi yang baik tercemari oleh potensi kejahatan. Pada abad 5 SM, Seorang Filsuf yang bernama Plato berpendapat bahwa “pendidikan adalah usaha untuk mengingatkan kembali atas pengetahuan yang sudah dimilikinya”. Pada abad 17, John Locke berpendapat bahwa “manusia bagaikan kertas putih” yang dikenal dengan teori tabula rasa.

Dari hal diatas, kita melihat betapa pentingnya arti pendidikan mengenai kebaikan yang dapat diterima oleh semua orang. Sehingga yang akan bertumbuh atau yang diberikan adalah hal-hal yang baik. Bibit kejahatan tidak akan berkembang dan akan tertutup oleh pertumbuhan kebaikan.

Samuel tumbuh menjadi orang yang taat kepada Allah, sampai akhirnya Samuel dipakai Tuhan untuk mengurapi raja Israel. Semua itu tidak lepas dari peranan orang tuanya didalam mendidik Samuel. Dalam 1 Samuel 2:19, Ibu Samuel membuatkan Samuel jubah kecil dan Samuel sejak kecil sudah dididik untuk melayani Tuhan.

Demikian juga dengan Tuhan Yesus. Ketika masih berusia 12 tahun (saat ini usia 12 tahun sedang duduk di kelas 6 SD) sudah bisa bertanya jawab dengan alim ulama di Bait Allah. Tentu saja hal ini karena pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya seperti yang diinformasikan didalam Lukas 2:51, bahwa Yesus hidup didalam asuhan Yusuf dan Maria.

Apa yang sudah kita lakukan, supaya sesama kita maupun anak-anak kita bisa bertumbuh didalam kasih kepada Allah dan sesama.

~NEA~