Minggu Sesudah Epifani 2-V/32/Minggu, 20 Januari 2019

Yesaya 62:1-5; Mazmur 36:6-11; 1 Korintus 12:1-11; Yohanes 2:1-11

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti mujizat adalah kejadian (peristiwa) ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Jadi mujizat itu adalah sebuah peristiwa yang tidak bisa dipahami dan dimengerti oleh akal manusia. Tetapi entah siapa yang memulai, arti kata mujizat menjadi arti yang sangat sempit dan selalu dikaitkan dengan kesembuhan, keberhasilan, pokoknya dikaitkan dengan hal – hal yang sesuai keinginan hati manusia. Sehingga arti kata mujizat menjadi tidak seluas arti yang dimaksud dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Ketika pesta pernikahan di Kana kehabisan air anggur, Tuhan Yesus mengadakan mujizat, yaitu mengubah air menjadi anggur yang istimewa. Peristiwa air menjadi anggur, sukar dijangkau dengan akal manusia. Tetapi disisi lain, kita melihat Rasul Paulus yang dengan rela meninggalkan keangotaannya di Sanhedrin. Dimana dengan menjadi anggota Sanhedrin, rasul Paulus  berkesempatan untuk menjadi orang terhormat dan kaya raya, demi memberitakan injil Tuhan Yesus Kristus kepada orang – orang yang belum mengenal Kristus. Bahkan bukan kemewahan yang didapat, tetapi penderitaan dan penganiayaan. Bukankah apa yang dilakukan oleh Rasul Paulus juga tidak bisa dijangkau dengan akal manusia? Rasul Paulus bisa menjalani semua itu, tentu ada kekuatan yang Tuhan berikan kepada Rasul Paulus.

Jadi dengan demikian, mujizat masih berlangsung sampai akhir jaman, karena Tuhan Sang Sumber Kehidupan senantiasa mengasihi kita, memberikan kepada kita sesuai dengan kebutuhan kita dan apa yang Tuhan berikan adalah demi kebaikan setiap kita.

~NEA~