Minggu Sesudah Epifani 4-V/34/Minggu, 3 Februari 2019

Yeremia 1:4-10; Mazmur 71:1-6; 1 Korintus 13:1-13; Lukas 4:21-30

Seorang filsuf yang bernama Gadamer mengatakan “Being that can be understood is language”, semua yang bisa dipahami disebut bahasa. Jadi baik kata, tulisan maupun gerakan tubuh merupakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain.  Kata – kata yang diucapkan maupun yang dituliskan, mempunyai kekuatan yang luar biasa. Mempunyai kekuatan untuk membangkitkan semangat tetapi juga bisa menghancurkan semangat. Oleh karena itu sangat perlu dipikirkan matang – matang sebelum kita mengucapkan kata – kata, sebelum menuliskan kata – kata atau sebelum melakukan gerakan tubuh. Supaya orang lain bisa diberi semangat kembali. Sebab kata – kata yang sudah terlanjur diucapkan, tidak bisa ditarik kembali. Orang bijak memberi nasehat, “jika engkau tidak bisa mengatakan hal yang baik, maka sebaiknya diam saja”.

Demikian pula bagi si pendengar, perlu diingat bahwa kata – kata dan tulisan mempunyai banyak makna. Oleh karena itu, jangan pernah tergesa – gesa tersinggung dengan ucapan atau tulisan, tetapi carilah makna yang terbaik.  Didalam Lukas 4:22 orang – orang di daerah asal Tuhan Yesus bertanya : “Bukankah Ia ini anak Yusuf?”, mereka menilai setiap perkataan Tuhan Yesus berdasarkan siapa yang mengatakan bukan berdasar kepada apa isi perkataannya. Mereka salah menafsirkan kata – kata Tuhan Yesus, sehingga pada akhirnya mereka tidak mendapat apa – apa.

Yeremia diberi perintah oleh Tuhan, untuk mengingatkan bangsa Israel, bahwa jika tidak ada pertobatan, maka akan ada hukuman yang datang dengan tiba – tiba. Disatu sisi memberi peringatan kepada orang lain adalah hal yang sangat tidak mengenakkan, tetapi disisi lain, jika tidak diberi peringatan akan membiarkan orang tersebut menerima hukuman dari Tuhan.

~NEA~