Minggu Sesudah Epifani 5-V/35/Minggu, 10 Februari 2019

Yesaya 6:1-13; Mazmur 138; 1 Korintus 15:1-11; Lukas 5:1-11

Manusia seharusnya menyadari bahwa kehidupannya adalah anugerah yang tak ternilai, yang diberikan Tuhan kepada umat-Nya, sehingga dengan kesadaran ini, manusia akan senantiasa mengucap syukur kepada Tuhan. Tetapi sayang, terkadang manusia tidak menyadari bahwa hidup ini adalah anugerah dari Tuhan. Oleh karena itu banyak orang yang kemudian melupakan Sang Pencipta, bahkan mempunyai anggapan bahwa kehidupannya karena hasil kerja kerasnya, kesuksesannya sepenuhnya karena hasil perjuangannya. Sehingga kehidupannya tidak ada ucapan syukur kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Akibatnya, ketika Tuhan memanggil manusia untuk melayaniNya dan bekerja di ladangNya, maka banyak sikap yang ditunjukkan. Ada yang menolak secara terang – terangan, tetapi ada juga yang mau menerima, tetapi dengan beban yang sangat berat sehingga dalam pelayanan tidak ada sukacita sama sekali.

Simon, Yakobus dan Yohanes merasa bersyukur sekali, karena mereka diijinkan untuk melihat karya Tuhan Yesus. Mereka kagum bahwa Tuhan Yesus sanggup mengadakan mujizat di hadapan mereka. Mereka diingatkan bahwa Tuhan itu melebihi dari apa yang mereka pikirkan. Oleh karena itu sejak saat itu, mereka mau bekerja melayani Tuhan bahkan melayani dengan sepenuh hati, tanpa beban apapun. Mereka melayani Tuhan bukan demi melihat mujizat terjadi karena mereka telah melihat mujizat tersebut. Sehingga mata mereka hanya terarah kepada Kuasa Tuhan dan rela meninggalkan ikan yang sudah diperolehnya dalam jumlah yang sangat banyak.

Tanpa kekaguman kepada Tuhan, maka akan sangat sulit untuk melayani Tuhan secara maksimal. Sebab dengan kekaguman kepada Tuhan akan membuat pandangan hanya tertuju kepada Dia dan mengabaikan hal – hal yang akan berpotensi meruntuhkan semangat dalam melayani Tuhan. Bahkan akan melayani dengan segenap hati, tanpa merasa pelayanan sebagai beban yang memberatkan. Bagaimana dengan saudara?

~NEA~