Minggu Pra Paska 2-V/40/Minggu, 17 Maret 2019

Kejadian 15:1-12, 17-18; Mazmur 27; Filipi 3:17 – 4:1; Lukas 13:31-35

Pada saat ini Tuhan Yesus sedang berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa untuk mengajar mengenai kabar sukacita. Tentu saja hal ini tidak disukai oleh orang Farisi, karena murid – murid mereka bisa beralih menjadi murid Tuhan Yesus atau bisa saja pengajaran yang salah menjadi ketahuan. Oleh karena itu orang – orang Farisi datang kepada Tuhan Yesus dan berkata : “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” Jika dilihat sekilas, nampaknya peringatan ini sangat baik dan penuh perhatian kepada Tuhan Yesus. Tetapi dibalik semua itu, mereka ingin menggagalkan perjalanan Tuhan Yesus dalam mengabarkan berita keselamatan. Mereka berharap Tuhan Yesus ketakutan terhadap ancaman Herodes lalu segera kabur meninggalkan tempat tersebut secepatnya.

Tetapi dugaan orang Farisi salah besar, Tuhan Yesus mempunyai iman yang tidak mudah goyah oleh apapun juga. PekerjaanNya untuk memberitakan firman harus diselesaikan, sebab segala sesuatu ada waktu dan ada masanya sendiri. Oleh karena itu Tuhan Yesus memberi jawab : “Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem”, jawaban ini menjelaskan bahwa meskipun Herodes mengancam, jika belum saatnya tiba, maka ancaman tersebut tidak akan terlaksana.

Jika dilihat dari kacamata manusia, tugas pelayanan seperti yang Tuhan Yesus lakukan, seakan – akan sedang menuju kepada penderitaan dan kerendahan. Tetapi jika pekerjaan itu dilakukan dengan penuh sukacita dan kesadaran bahwa pekerjaan tersebut untuk kemuliaan nama Tuhan, maka tidak ada lagi takut menghadapi penderitaan dan kerendahan. Sehingga tidak ada lagi istilah penderitaan dan kerendahan.

~ NEA ~