Minggu Pra Paska 4-V/42/Minggu, 31  Maret 2019

Yosua 5: 9-12; Mazmur 32; 2 Korintus 5:16-21; Lukas 15:1-3, 11-32

Bisa dikatakan bahwa hampir semua orang menginginkan kedamaian, sebab dengan adanya damai maka tidak akan ada peperangan, tidak ada kerusuhan, aman, tentram dan tidak ada permusuhan. sehingga berbagai upaya dilakukan untuk menjaga damai tersebut.

Dalam kisah “anak yang hilang” si bungsu justru tidak mau menjaga keharmonisan didalam keluarga besarnya. Si bungsu ingin memisahkan diri dan meminta seluruh harta warisannya untuk dijual. Tentu saja hal ini membuat sedih, sebab dalam kehidupan bangsa Israel mereka tidak akan menjual harta warisan yang diberikan oleh orang tua. Jadi bisa dikatakan bahwa apa yang dilakukan oleh si bungsu adalah sebuah kesalahan besar, yang hampir – hampir tidak bisa dimaafkan. Apalagi hasil penjualan tanah warisan dipergunakan untuk berfoya – foya. Tentu saja kisah ini membuat si pendengar menjadi semakin tidak suka terhadap si bungsu ini.

Wajar saja, si Sulung marah ketika adiknya pulang setelah hartanya habis untuk berfoya-foya. Menurutnya si bungsu sebaiknya tidak perlu diterima atau disambut-sambut dengan meriahnya. Sikap si Sulung tentu disetujui oleh sebagian besar pendengar kisah tersebut.

Sikap Bapa sangat bertolak belakang dengan sikap sebagian besar pendengar yang diwakili oleh sikap si Sulung. Bapa tidak menolak atau mengusir si Bungsu tetapi justru menyambutnya dengan penuh sukacita. Sebab Bapa mempunyai pendapat bahwa pertobatan si Bungsu lebih penting dari segala harta duniawi. Sebab dengan adanya pertobatan artinya ada pendamaian antara manusia dengan Sang Pencipta, dengan adanya pendamaian ini maka akan hadir kedamaian di bumi, dimana nilai kedamaian melebihi nilai harta benda.

~NEA~