Minggu Pra Paska 5- V/43/Minggu, 7 APRIL  2019

Yesaya 43:16-21; Mazmur 126; Filipi 3:4-14; Yohanes 12:1-8

Istilah lagu “jatuh cinta sejuta rasanya” sangat akrab di telinga kita. Ya, memang “jatuh cinta itu mudah, namun tidak mudah untuk bangun cinta!” Di jaman modern seperti sekarang ini, cinta mengalami degradasi nilai. Cinta sering dianggap sebagai “permainan” sehingga istilah “habis manis sepah dibuang” sering digunakan.

Hal ini terjadi karena semakin hari semakin banyak orang yang tidak mengerti makna cinta yang sesungguhnya. Cinta dipandang sebagai pemenuhan keinginan daging dan hal fisik semata. Inilah cinta manusia. Cinta kulit. Cinta duniawi. Sehingga cinta sering dikaitkan dengan pemenuhan kepuasan diri. Cinta seperti ini tentu bukan cinta yang diharapkan oleh Tuhan Yesus.

Cinta kasih Tuhan Yesus yang telah mengorbankan diriNya di atas kayu salib. Itulah sumber cinta yang kekal dan abadi. Cinta kasih yang sungguh rela berkorban demi yang dicintai. Cinta yang tulus iklhas, tidak pamrih dan tak pernah ingkar, cinta kasih yang kudus. Cinta sejati yang selalu memberi makna dalam setiap kehidupan yang dicintai. Cinta yang mau terus menerus memberi tanpa mengharap penghargaan.

Dengan cinta seperti cinta Kristus, maka setiap orang percaya akan mampu memberikan cintanya kepada siapapun dengan tanpa memperhitungkan untung rugi. Karena dengan cinta yang dimiliki Tuhan Yesus, orang itu akan bahagia jika melihat orang lain juga bahagia. Semakin banyak dia memberi, semakin banyak yang menjadi bahagia, maka orang itu akan semakin bahagia.

Bukankah apa yang dilakukan oleh Maria, dengan mengurapi Tuhan Yesus dengan minyak Narwarstu adalah dilandasi oleh cintanya kepada Tuhan Yesus? sehingga Maria mau memberikan minyak Narwastu yang mahal itu, untuk mengurapi Tuhan Yesus. Jika tanpa cinta, orang akan sulit memberikan kepada Tuhannya atau sesamanya, sekalipun yang diberikan itu barang yang harganya murah sekalipun.

~NEA~