Minggu Pra Paska 6- V/44/Minggu, 14 APRIL  2019

Yesaya 50:4-9; Mazmur 118:1-2, 19-29; Filipi 2:5-11; Lukas 19:28-40

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, damai mempunyai arti: tidak ada perang; tidak ada kerusuhan; aman; tenteram; tenang; keadaan tidak bermusuhan; rukun.  Karena itulah setiap insan secara umum, sangat mendambakan kedamaian dan dengan kedamaian itu, setiap insan akan bisa menjalin persahabatan dengan akrab.

Didalam kisah Tuhan Yesus masuk ke kota Yerusalem, Tuhan Yesus mengajarkan kepada anak-anakNya bagaimana menjadi pembawa damai.  Meskipun Tuhan Yesus sudah tahu, bahwa di Yerusalemlah, Dia akan mengalami penyaliban, tetapi Tuhan Yesus tetap masuk ke kota Yerusalem. Hal ini dilakukanNya untuk menghormati Bapa-Nya, menghormati keberadaan Bait Allah, bahkan menghormati orang-orang yang hadir menyambut Paska. Sebagai tokoh yang dikagumi, Tuhan Yesus bisa saja datang ke Yerusalem dengan naik kuda supaya kelihatan gagah dan mempunyai kuasa, tetapi Tuhan Yesus lebih memilih untuk naik keledai. Raja yang datang mengendarai keledai melambangkan bahwa sang raja datang dengan maksud membawa damai dan tidak akan mengadakan perlawanan.

Salah satu komponen dalam menghadirkan kedamaian adalah rasa hormat antara satu dengan yang lain. Jika rasa hormat antara satu dengan yang lain luntur, maka yang akan hadir selanjutnya adalah pertentangan dan perseteruan. Oleh karena itu Tuhan Yesus datang kedalam dunia ini dengan merendahkan dirinya, supaya setiap orang yang datang kepada Dia tidak merasa direndahkan. Bahkan dalam Filipi 2:8 menyatakan bahwa Tuhan Yesus merendahkan dirinya bukan hanya rendah, tetapi serendah – rendahNya, bahkan sampai mati dikayu salib.

Dalam menghadirkan damai didalam kehidupan kita, sudahkah kita memiliki rasa hormat terhadap orang lain? hadirkan rasa hormat terhadap setiap hal yang ada disekitar kita, maka kedamaian itu akan hadir dan mewarnai kehidupan kita.

~NEA~