Paska  ii- V/46/Minggu, 28 APRIL  2019

Kisah Para Rasul 5:27-32; Mazmur 118:14-29; Wahyu 1:4-8; Yohanes 20:19-31

Disatu sisi, keraguan akan menjadikan seseorang menjadi pribadi yang selalu berhati-hati, selalu menanyakan kembali akan segala informasi yang diterimanya, tidak langsung dipercaya begitu saja.  Jika tidak ada keraguan dan tidak menanyakan kembali, maka akan sangat mudah menjadi orang yang menyebarkan berita hoax. Tentu saja keraguan itu perlahan-lahan akan hilang, ketika dirinya sudah memperoleh data-data yang kuat terhadap berita tersebut. Setelah berita yang diterimanya teruji kebenarannya, maka dirinya akan bisa menerima berita itu dengan senang hati.

Tetapi disisi lain, jika seseorang sudah tidak percaya dengan siapapun, bahkan ketika ada bukti yang kuat akan kebenaran berita itu, tetapi dia masih tidak percaya, maka orang tersebut sedang mengalami masalah didalam dirinya.

Thomas adalah salah satu murid yang memiliki sikap yang cukup berani berbeda dengan yang lain. Ketika semua murid mengatakan bahwa Tuhan Yesus telah bangkit, Thomas tidak langsung percaya. Thomas mempunyai ukuran tersendiri untuk menilai berita itu benar atau tidak. Ukuran Thomas adalah: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

Ternyata syarat yang disampaikan oleh Thomas bukan alat untuk membenarkan diri atau menolak Tuhan Yesus yang telah bangkit. Tetapi Thomas sungguh-sungguh ingin melihat bukti yang nyata. Terbukti, ketika Tuhan Yesus menampakkan diri kepada Thomas dan berkata “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Thomas langsung menjawab: “Ya Tuhanku dan Allahku!” sebuah ungkapan percaya sepenuhnya kepada Kristus yang telah bangkit.

~NEA~