Paska  VI-V/50/Minggu, 26 Mei  2019

Kisah Para Rasul 16:9-15; Mazmur 67; Wahyu 21:10, 22-22:5; Yohanes 14:23-29

Orang percaya kepada Kristus mempunyai tanda yang membedakan dengan yang lain, tanda tersebut adalah “saling mengasihi”. Didalam kasih ada unsur keberserahan dan percaya bahwa yang dikasihinya tidak akan mencelakakan dirinya dan juga percaya bahwa yang dikasihinya akan memberikan yang terbaik dalam segala hal. Tentu saja dalam mengasihi bukan hanya mengasihi sesama manusia saja, tetapi Tuhan juga termasuk dalam daftar yang dikasihi dengan sungguh.

Rasul Paulus dalam pelayanannya sangat mengasihi Tuhan yang dilayaninya. Sehingga Rasul Paulus melayani Tuhan dengan penyerahan diri yang sepenuhnya.  Rasul Paulus percaya bahwa Tuhan yang dilayaninya adalah Tuhan yang akan mencukupkan segala kebutuhannya. Keyakinan Rasul Paulus ini dinyatakan dalam perjalanan misi-nya, dalam setiap perjalanan misi-nya Rasul Paulus tidak membawa bekal yang berlimpah, bahkan dapat dibilang seadanya. Meskipun secara manusia Rasul Paulus hidup dalam kekurangan, tetapi Rasul Paulus tetap memberitakan kabar sukacita dengan penuh kesungguhan. Salah satu strategi yang dipakainya adalah, selalu mendatangi sinagoge sebagai tempat beribadahnya orang Yahudi. Dengan demikian, Rasul Paulus akan lebih efektif didalam memberi pengajaran kepada para umat di sinagoge.

Pelayanan Rasul Paulus yang penuh kesungguhan dan dilandasi cintanya kepada Kristus, maka pelayanan yang dilakukannya tidak berakhir dengan sia-sia. Sikap percaya-nya kepada Kristus yang akan memimpin hidupnya menjadi kenyataan. Karena  dalam pelayanan yang dilakukannya, Tuhan mengirim Lidya pedagang kain ungu, untuk mendukung pelayanan Rasul Paulus.

Sikap percaya kepada Kristus adalah bukti nyata dari kasih kita kepada Dia. Tanpa sikap percaya, maka akan sangat sulit untuk membuktikan bahwa kita sangat mengasihi Kristus.

~NEA~