Minggu Biasa- VI/3/Minggu, 30 Juni 2019

1 Raja-raja 19:15-21; Mazmur 16; Galatia 5:1, 13-25; Lukas 9:51-62

Hampir setiap orang  menginginkan kenyamanan. Sehingga orang berlomba – lomba untuk meraih dan menikmati kenyamanan. Tetapi kenyamanan menjadi terganggu ketika nilai sebuah kenyamanan sangat tergantung kepada siapa yang ada dilingkungannya. Karena orang yang ada disekitarnya akan memberikan penilaian untuk menentukan nyaman atau tidaknya kehidupannya tersebut. Sehingga tanpa sadar, yang seharusnya individu tersebut hidup bebas menjadi individu yang terkekang dengan penilaian lingkungan, yang pada akhirnya menjadikan hidupnya menjadi penuh dengan kepura-puraan. Hidupnya dijalani demi memenuhi penilaian dari orang-orang yang ada disekitarnya.

Keterikatan kepada dunia menjadi penyebab seorang individu tidak bisa menikmati kenyamanan yang sejati. Oleh karena itu Tuhan Yesus memberi contoh dengan pola kehidupan sine proprio, yaitu kehidupan yang tanpa milik, sekalipun memiliki segalanya. Bukankah Tuhan Yesus memiliki langit dan bumi bahkan bisa menciptakan dari ketiadaan menjadi ada? tetapi Tuhan Yesus berkata “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Dengan sikap hidup sine proprio, maka diharapkan akan bisa mengendalikan diri dari segala keinginan yang mengikat manusia, serta hidup hanya bersandar dan mengandalkan Tuhan saja.

Dengan jiwa yang bebas dari keterikatan dunia, maka akan sangat membantu didalam menaati perintah Tuhan. Sehingga kehidupan kita, akan membuahkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Tanpa harus dihalangi oleh keakuan  yang berlindung di dalam kenyamanan dan kemapanan yang kita miliki.

~NEA~