Minggu Biasa-VI/5/Minggu, 14 Juli  2019

Ulangan 30:9-14; Mazmur 25:1-10; Kolose 1:1-14; Lukas 10:25-37

Thomas Hobbes,mengemukakan pendapat  Homo homini lupus artinya manusia yang satu serigala bagi manusia yang lainnya (berdasarkan sifat dan tabiat). Nafsu yang paling kuat dari manusia adalah nafsu untuk mempertahankan diri, atau dengan kata lain, ketakutan akan kehilangan nyawa. Sehingga manusia pada dasarnya ingin mengalahkan dan membinasakan sesamanya, hal ini dapat kita lihat dari peperangan dan kebencian antar kelompok manusia yang hidup dalam dunia ini. pendapat Thomas Hobbes ada benarnya juga, tetapi pendapat tersebut tidak berlaku bagi orang-orang yang sudah mengenal Kristus dan lahir baru.

Memang diakui atau tidak, orang-orang yang belum mengenal Kristus dan belum lahir baru, sangat mementingkan diri sendiri dan tidak peduli terhadap orang lain. Bahkan orang lain dianggap sebagai musuh dan memperlakukan orang lain dengan kejam dan tidak manusiawi. Tetapi bagi orang yang sudah mengenal Kristus dan lahir baru, maka hati orang tersebut akan dipenuhi dengan belas kasihan dan memandang orang lain sebagai sesama yang harus diberi belas kasih. Bahkan ketika memberi belas kasih dan perhatian dengan sepenuh hati.

Hal inilah yang dilakukan oleh orang Samaria yang baik hati. Ketika melihat ada orang yang dirampok dan terluka parah. Tanpa memperhitungkan untung atau rugi, orang Samaria ini langsung memberikan bantuan dan menolong korban perampokan ini dengan tulus hati dan memberikan secukupnya, sampai semua kebutuhan bisa dipenuhi. Orang Samaria memberikan contoh kepada kita, bagaimana seharusnya menjadi sesama bagi orang lain. Supaya kehidupan yang saling bertikai dan saling membinasakan, berubah menjadi kehidupan yang saling mendukung dan saling memperhatikan. Sehingga damai sejahtera akan terwujud dalam kehidupan di bumi saat ini.

~NEA~