(Ulangan 30:15-20; Mazmur 119:1-8; 1 Korintus 3:1-9; Matius 5:21-37)

Tuhan Yesus tidak menyetujui praktek keagamaan yang dilakukan oleh Ahli Taurat dan orang Farisi. Sebab mereka hanya melakukan praktek keagamaan secara fisik. Artinya praktek keagamaan yang mereka lakukan adalah demi mendapat pujian dari orang yang melihatnya. Sehingga ibadah yang mereka lakukan sama sekali tidak melibatkan hati yang terhubung dengan Tuhan.

Oleh karena itu, Tuhan Yesus memberi pengajaran kepada murid-muridNya, supaya melakukan ibadah bukan secara fisik, tetapi melibatkan seluruh yang ada dalam diri. Jika tubuh jasmani beribadah, maka tubuh rohanipun harus ikut beribadah. Artinya ketika datang menyembah Tuhan, maka tubuh rohani yang tidak kasat mata harus dibenahi dahulu. Dalam hal ini Tuhan Yesus memberi pengajaran dalam Matius 5:23-24, jika kita hendak memberi persembahan, tetapi ada sesuatu ganjalan dalam hati kita terhadap sesama kita, maka harus diselesaikan terlebih dahulu, barulah kembali memberikan persembahan.

Sebab manusia bisa berhubungan dengan Tuhannya, hanya dapat melalui hati. Jika datang beribadah dengan hati yang belum dibenahi, maka ketika menyanyikan pujian, ketika mendengarkan firman, ketika mendengar kesaksian, maka semua itu bagaikan kata-kata biasa yang tidak dapat diambil maknanya.

~ NEA ~