(Keluaran 24:12-18; Mazmur 2; 2 Petrus 1:16-21; Matius 17:1-9)

Pada dasarnya, setiap orang tidak menyukai penderitaan dan akan berusaha untuk menghindarinya. Jika harus menjalani penderitaan, akan ada dua kemungkinan yaitu menjalani dengan keterpaksaan atau menjalani dengan penuh kerelaan. Orang menjalani penderitaan dengan keterpaksaan, karena akalnya tidak menemukan alasan yang dapat diterima oleh hati. Sehingga hatinya tetap diliputi dengan kesedihan. Sedangkan orang yang bisa menjalani penderitaan dengan tetap bersukacita, karena hatinya menerima penghiburan. Sehingga hati mendapat kekuatan untuk dapat menerima penderitaan dengan rela.

Tuhan Yesus tentu saja sudah mengetahui gerak-gerik Yudas Iskariot, yang akan menyerahkan diri-Nya kepada orang-orang di Bait Allah. Berhadapan dengan penderitaan yang sudah pasti dan dalam bentuk hukuman yang sangat berat, maka diperlukan sebuah kekuatan untuk dapat menjalaninya dengan penuh kerelaan.

Dalam peristiwa transfigurasi, Tuhan Yesus menerima kekuatan dari Bapa, dengan kalimat yang sama seperti pada saat Tuhan Yesus dibaptis “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Demikian juga kekuatan diterima oleh murid-muridNya dengan menyaksikan Tuhan Yesus berubah rupa dihadapan mereka. “Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.”

~NEA~