Keluaran 17: 1-7; Mazmur 95; Roma 5:1-11; Yohanes 4:5-42

Kata “manusia” atau homo dalam bahasa Latin berasal dari kata humanus yang berarti terpelajar. Kata “manusia” dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta “manu” yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Dengan demikian arti kata “manusia” dalam bahasa Indonesia adalah makhluk yang berakal budi dan memiliki kemampuan untuk menguasai makhluk lain. Karena berakal budi, manusia disebut dalam bahasa latin sebagai Homo sapiens, sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi atau dengan kata lain manusia adalah hewan rasional. Akal budi atau intelegensi merupakan kemampuan untuk memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi, belajar dari pengalaman hidup sehari-hari. Intelegensi yang dimiliki oleh manusia memberikannya kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya atau memahami eksistensinya serta memberikannya sebuah tujuan dalam hidup ini. Sehingga manusia tidak hanya sekedar eksis (ada) di dunia, namun ia memahami dan memiliki sebuah tujuan dalam hidupnya.

Oleh karena itu, ketika Tuhan Yesus berjumpa dengan seorang Perempuan Samaria, Tuhan Yesus memberikan sebuah tantangan kepada Perempuan Samaria, supaya Perempuan Samaria ini berpikir dan menemukan jawaban atas setiap perkataan Tuhan Yesus.

Perempuan Samaria ini secara luar biasa, menanggapi setiap perkataan Tuhan Yesus bahkan ketika Tuhan Yesus “membuka” sisi kehidupannya. Perempuan Samaria ini tidak membentengi diri, tetapi justru berpikir bahwa yang dihadapinya itu “bukan manusia biasa” tetapi pribadi yang mempunyai kuasa.

Pada akhirnya Perempuan Samaria yang memiliki sisi kehidupan yang gelap, telah mau mengubah dirinya menjadi saksi bagi Kristus bagi orang-orang Samaria. Oleh karena kesaksiannya, banyak orang Samaria yang menjadi percaya.

~NEA~