Berpengharapan dalam Perjanjian Allah

 (Markus 1:9-15)

Penduduk daerah Galilea kebanyakan berdarah campuran. Sehingga orang Yahudi menganggap orang Galilea tidak murni, “najis” secara moral, rohani maupun fisik (didiami oleh roh-roh dan mengidap penyakit). Pada umumnya orang Yahudi enggan berurusan dengan orang Galilea. Itulah salah satu alasan mengapa  Yesus dari Nazaret  dan murid-muridnya (sebagian dari mereka adalah nelayan dari Galilea) ditanggapi dengan rasa kebencian oleh oleh para pemimpin Yahudi yang saleh di Yerusalem.

Seakan – akan orang wilayah Galilea menjadi orang yang sangat jauh dari keselamatan yang dijanjikan oleh Allah kepada manusia. Tetapi janji Allah untuk menyelamatkan umat manusia, bukan hanya berlaku untuk orang – orang yang “merasa” dekat dengan Allah, tetapi berlaku bagi setiap orang yang mau menyambut Allah dalam kehidupannya.

Hal inilah yang dialami oleh orang-orang di wilayah Galilea, meskipun dianggap sebagai wilayah yang najis, tetapi justru Tuhan Yesus pertama kali menyapa wilayah Galilea untuk melakukan pertobatan dan percaya kepada Injil. Ternyata tidak ada tempat di dunia ini yang tidak disapa oleh Tuhan, bahkan tempat yang dianggap najispun mendapat sapaan Tuhan.

~ NEA ~

Tinggalkan komentar