“Menggumuli Yang Baik Dan Yang Jahat”

Minggu Pra Paska 1 – IV/36/Minggu, 18 Februari 2018

Kejadian 9:8-15; Mazmur 25:4-9; 1 Petrus 3:18-22; Markus 1:12-15

Siapapun jika ditawari antara yang baik dan yang jahat, tentu akan memilih yang baik. Karena hal yang baik akan membawa kepada kebahagiaan. Tetapi hal yang jahat akan membawa kepada kesedihan. Akan tetapi untuk mendapatkan hal yang baik, perlu dicoba dahulu, apakah benar-benar baik, atau hanya kulitnya saja. Tuhan Yesus harus mengalami pencobaan. Demikian juga orang-orang percaya,  tidak mungkin menghindar dari pencobaan. Akan tetapi satu hal yang harus diingat bahwa pencobaan itu bukan untuk membuat kita jatuh. Tetapi pencobaan itu didatangkan untuk menguatkan otot akal, hati dan jiwa kita. Pencobaan itu dimaksudkan sebagai ujian agar kita menjadi pejuang dan atlet yang lebih baik lagi.

Sehingga diharapkan setiap orang percaya akan melakukan pertobatan. Pertobatan (metanoia) adalah perubahan batin. Terkadang kita cenderung mencampuradukkan dua hal yang berbeda “bersedih karena konsekuensi dosa” dan “bersedih karena dosa”. Biasanya orang akan menyesal karena penderitaan akibat dosa. Tetapi jika dia bisa menghindar dari akibat dosa, maka dia akan berbuat dosa lagi. Jadi orang takut berbuat dosa, bukan karena benci kepada dosa, tetapi takut kepada akibat dosa. Makna pertobatan sejati adalah orang benci kepada dosa. Sehingga tidak akan melakukan hal-hal yang dosa.

Oleh karena itu pertobatan bisa diartikan “orang yang mencintai dosa telah berubah menjadi orang yang membenci dosa”.

Sang Pemazmur didalam Mazmur 25:5 berseru kepada Allah : “Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.” sebuah kerinduan untuk senantiasa berada didalam kebenaran, bukan hidup didalam dosa. Sebab sang Pemazmur menyadari bahwa hidup ini adalah perjuangan untuk tetap berada didalam hidup benar, meskipun godaan hidup dalam dosa selalu menggoda.

-NEA-

Tinggalkan komentar