“Hidup oleh Iman”

Minggu Pra Paska 2-IV/37/Minggu, 25 Februari 2018

Kejadian 17:1-7, 15-16; Mazmur 22:23-31; Roma 4:13-25; Markus 8:31-38

Setiap manusia dilahirkan dengan memiliki kebebasan. Bahkan bebas untuk memilih apa yang harus dijalaninya. Sehingga dalam menjalani kehidupannya, setiap orang harus mau mengambil keputusan demi keputusan. Bukan hanya mengambil keputusan saja, tetapi melakukan keputusan itu dalam tindakan sehari–hari. Sebab tindakan adalah sarana untuk melihat nilai–nilai yang kita pegang atau kita hayati. Sehingga didalam mengambil keputusan diperlukan komitmen yang terus menerus diambil dan terarah pada nilai-nilai tertentu. Memang ketika manusia lahir, dirinya belum mempunyai pilihan tetapi dengan bimbingan dan penanaman nilai-nilai Kristus, maka si anak tersebut akan bisa mengambil keputusan dan mempunyai komitmen untuk terus mengambil keputusan berdasar kepada nilai kekristenan.

Ketika Allah memberikan janji kepada Abraham, maka tindakan yang dilakukan Allah kepada Abraham selalu berdasar kepada perjanjianNya itu. Perjanjian itu bukan hanya diucapkan tetapi dilakukan didalam setiap tindakan. Karena apa yang dilakukan oleh Allah senantiasa berdasar kepada janjiNya maka tindakan Allah tidak akan pernah keluar dari perjanjian tersebut. Oleh karena itu, meskipun Abraham sudah tua dan belum mempunyai anak seperti yang dijanjikanNya. Abraham tetap percaya kepada Allah, bahwa apa yang dilakukan Allah selalu berdasar kepada kasihNya.

Demikian pula bagi kita yang hidup pada saat ini, jika Allah sudah memberikan janjiNya kepada kita, maka kita juga harus tetap percaya bahwa apa yang dilakukan oleh Allah adalah tindakan yang tidak keluar dari perjanjianNya. Oleh karena itu Tuhan Yesus menegur Petrus karena ia hanya memikirkan apa yang dipikirkan oleh manusia, yaitu pikiran yang jauh dari rencana Allah. Jadi apa yang diperintahkan kepada kita, bukan untuk memberi beban, tetapi untuk membentuk kita menjadi orang–orang yang bisa diandalkan di dalam kehidupan ini. Dengan menjadi manusia yang bisa diandalkan oleh Tuhan, maka kita akan bisa membuat keputusan untuk tetap setia kepada Tuhan Yesus dan melakukan keputusan kita itu melalui kehidupan yang seturut dengan kehendakNya. Yaitu menyenangkan hati Tuhan.

-NEA-

Tinggalkan komentar