“Yesus, Bait Allah dan Kita”

Minggu Pra Paska 3-IV/38/Minggu, 4 MARET 2018

Keluaran 20:1-17, Mazmur 19, 1 Korintus 1:18-25, Yohanes 2:13-22

Bait Allah adalah tempat kita memuliakan Allah. ketika Tuhan Yesus melihat ada praktek yang menghalangi umat untuk memuliakan Allah maka Tuhan Yesus tidak berkenan. Inilah yang terjadi di Yerusalem. Paskah adalah pesta terbesar diantara pesta–pesta Yahudi. Hukum Yahudi mengatakan bahwa setiap Yahudi dewasa yang tinggal dalam jarak 20 KM dari Yerusalem harus mengikuti perayaan Paskah di Yerusalem. Tetapi yang datang bukan hanya orang Yahudi dari sekitar bait Allah saja, tetapi juga orang Yahudi dari berbagai daerah. sehingga tidak mengherankan jika pada saat paskah akan berkumpul 2.250 Orang untuk ikut merayakan paskah. Tetapi sayang kedatangan para umat, justru dibebani dengan harga binatang korban yang sangat mahal dan nilai tukar uang yang sangat tinggi, yang seharusnya itu semua tidak perlu terjadi. Melihat hal ini Tuhan Yesus tidak berkenan, lalu mengusir semua penjual hewan korban dan penukar uang dari halaman Bait Allah. Sebab ibadah kepada Allah harus dipersiapkan dengan baik, dan persiapan ini tidak boleh diganggu oleh siapapun.

Tuhan Yesus marah di Bait Allah karena rumah Allah dinajiskan. Di Rumah Allah ada terdapat ibadah yang tanpa hormat kepada Allah. Menjadi ibadah yang dipaksakan dan diformalkan. Sikap dalam ibadah kelihatan sangat khusuk. Tetapi jauh didalam hati tidak ada rasa hormat kepada Allah. Tuhan Yesus melakukan tindakan yang drastis itu juga hendak memberikan pesan bahwa segala perlengkapan dan sarana hewan korban sama sekali tidak mempunyai makna yang pokok. Selama berabad – abad para nabi menunjukkan hal tersebut. Tuhan Yesus hendak menunjukkan bahwa tidak ada korban binatang yang dapat membuat manusia benar di hadapan Allah.

Bait Allah terbagi dalam dari beberapa halaman. Urutan-urutannya dimulai dari halaman paling luar : Halaman kafir, halaman wanita, halaman bangsa Israel dan terakhir halaman para imam. Tempat para penjual berjualan hewan kurban adalah tempat dimana orang kafir ingin berdoa. Sehingga orang kafir yang tidak boleh masuk lebih dalam ke Bait Allah, sekarang tidak mempunyai tempat untuk mereka berdoa. Sehingga kegiatan penjualan hewan kurban menjadi penghalang bagi orang kafir yang ingin mencari Tuhan. Apakah pada saat ini ditengah kehidupan bergereja kita ada praktek menghalangi orang untuk beribadah? sikap tertutup, sikap tidak peduli, sikap ketertutupan, kesuaman, semua itu adalah penghalang bagi orang – orang yang ingin datang kepada Tuhan.

-NEA-

Tinggalkan komentar