Blog

BUKAN YANG TAMPAK, MELAINKAN DAMPAK

Sabtu, 07 Februari 2026 | Kategori : Kebaktian Minggu

Dibaca : 10

image blog

Harus diakui bahwa sesuatu yang tampak atau kelihatan, memang kerap jadi perhatian banyak orang. Misalnya, penampilan. Seseorang yang berpenampilan rapi akan lebih mudah mendapat perhatian dan kesan yang positif. Sementara, seseorang yang berpenampilan acak-acakan akan lebih cepat dipandang secara negatif. 

Namun demikian, kita juga mengakui bahwa apa yang tampak, tidak serta merta dan tidak selalu menggambarkan apa yang sesungguhnya. Misalnya, orang yang berpenampilan rapi ternyata bisa jadi bertindak korupsi. Sementara mereka yang berpenampilan urakan tak selalu bertindak negatif. 

Kehidupan keagamaan rasanya juga demikian. Apa yang kelihatan memang mudah menjadi perhatian. Bahkan, sayangnya, apa yang kelihatan seringkali jadi ukuran kehidupan keagamaan seseorang. Misalnya, seseorang yang kelihatan melakukan kewajiban agama dengan rajin akan dipandang sebagai orang yang religius. Sementara mereka yang tak pernah terlihat melakukan kewajiban agama akan dipandang tak religius. Padahal, kelihatan atau tidak kelihatan melakukan kewajiban agama tidak serta merta membuat seseorang hidup dalam prinsip moral dan etika yang benar. 

Bagaimana dengan kekristenan? Bacaan Alkitab hari ini memberi petunjuk kepada kita.

Pertama, kekristenan rupanya secara konsisten menunjukkan bahwa apa yang kelihatan tidak bisa menjadi ukuran utama – apalagi satu-satunya – spiritualitas seseorang. Dalam kitab Yesaya kita menemukan bahwa Allah mengecam umat yang datang mendekat kepada-Nya dan menjalankan praktik puasa dengan setia. Allah mengecam umat yang saat berpuasa masih hidup dalam keegoisan dan sikap hidup menindas. Allah menyadarkan umat bahwa puasa yang Ia kehendaki adalah “supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri”. Umat hanya memperhatikan praktik puasa yang kelihatan, tetapi lupa mewujudkan makna puasa yang sesungguhnya. 

Kedua, Yesus mengajarkan bahwa hidup seorang Kristen itu sifatnya misional. Maksudnya, hidup orang Kristen tidak tertuju pada dirinya sendiri. Coba perhatikan bagaimana Yesus menyapa para pendengar-Nya kala itu. “Kamu adalah garam dunia” dan “kamu adalah terang dunia”. Perhatikan dahulu bahwa Yesus menggunakan kata ‘dunia’ untuk menunjukkan bahwa hidup umat seharusnya memberi dampak bagi dunia, bukan hanya hidup untuk dirinya sendiri. Maka, bagi kita semua orang Kristen masa kini, kita diingatkan bahwa hidup sebagai orang Kristen itu punya sifat misional. Hidup kita bukan untuk diri sendiri, tapi untuk turut serta dalam misi Kerajaan Allah. Itulah yang Yesus lakukan, “Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”.

Mengenai garam dan terang, memang sekilas ada kesan bahwa garam itu tidak kelihatan sementara terang itu kelihatan. Garam yang larut tidak terlihat tapi terasa, tapi terang itu pasti kelihatan dan tidak bisa disembunyikan. Jadi orang Kristen perlu kelihatan atau tidak? 

Sesungguhnya baik garam dan terang sama-sama didahulukan dampaknya daripada tampaknya. Garam seharusnya memberi rasa asin. Terang seharusnya memperlihatkan apa yang di sekitarnya. Misalnya, kita masuk kamar yang gelap dan menyalakan lampu, kita tidak melihat lampunya, bukan? Kita melihat di mana barang yang kita cari. Jadi kita bukan fokus pada si lampu, tapi pada apa yang diteranginya. 

Bagi Yesus, ini bukan soal kelihatan atau tidak kelihatan. Ada orang Kristen yang keberadaanya memang terlihat secara publik, mungkin dia adalah public figure, pejabat, artis, content creator, dan berbagai peran publik lainnya. Ada juga (dan lebih banyak lagi) orang Kristen yang berada di balik layar. Poinnya, di mana pun berada dan apa pun keadaan Saudara, Yesus menghendaki Saudara memberi dampak yang “memuliakan Bapamu yang di surga”.


Blog Terkait