Blog

Dipanggil Untuk Hidup Bersama

Sabtu, 12 September 2026 | Kategori : Kebaktian Minggu

Dibaca : 3

image blog

Manusia diciptakan bukan untuk hidup sendiri, melainkan dalam relasi dan komunitas. Gereja mula-mula memperlihatkan kehidupan bersama yang penuh solidaritas, saling berbagi, dan saling menopang. hal ini diungkapkan dalam Kisah Para Rasul 2 : 46 Dengan bertekun dan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergiliran dan makan bersama-sama dengan gembira dan tulus hati. Melalui ayat ini kita dapat membayangkan kehidupan persekutuan di dalam jemaat muola-mula ada sebuah kebersamaan yang indah, karena masing-masing tidak mengunggulkan diri, tetapi sebaliknya ada penghargaan terhadap sesama.

Kepemimpinan konvivial dimulai dari kesadaran bahwa gereja adalah keluarga Allah, bukan sekadar organisasi. Tuhan Yesus menunjukkan model kepemimpinan yang melayani, bukan mendominasi. Kepemimpinan konvivial menolak gaya otoriter dan membuka ruang partisipasi serta penghargaan terhadap martabat setiap orang. Dunia memandang pemimpin sebagai penguasa; Tuhan Yesus memandang pemimpin sebagai pelayan. Membasuh kaki menjadi simbol kepemimpinan yang rendah hati. Pemimpin gereja dipanggil menghadirkan rasa aman dan pertumbuhan bagi sesama.

Di dalam tubuh Kristus tidak ada anggota yang menjadi pusat dan tidak ada anggota yang tidak penting. Di mana justru anggota yang paling lemah paling dibutuhkan dan menerima penghormatan khusus. Memimpin bukan berarti menjadikan diri sebagai pusat, melainkan merawat kesatuan dan keterhubungan tubuh sehingga setiap orang, terutama yang dianggap kecil, memperoleh tempat terhormat. Identitas seluruh tubuh tidak terletak pada salah satu anggota, melainkan hanya pada Kristus. Pdt.NEA


Blog Terkait