Blog

Pemimpin yang Memanusiakan

Sabtu, 12 September 2026 | Kategori : Kebaktian Minggu

Dibaca : 4

image blog

Dua ribu tahun Tuhan Yesus melakukan kritik terhadap kekuasaan. Hal ini bermula dari pertengkaran para murid-Nya yang memperebutkan posisi terbaik dalam pemerintahan Yesus. Mendengar keributan itu, Tuhan Yesus bersabda, “Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semunya.” Sabda-Nya ini kemudian diwujudkan secara konkret dalam perjamuan malam terakhir. Tuhan Yesus menanggalkan jubah-Nya, mengambil baskom berisi air, lalu bersujud dan mulai membasuh kaki para murid.

          Pertanyaannya sekarang: Mengapa saat ini relasi kuasa masih dijalankan melalui dominasi dan penindasan? Michel Foucault, seorang pemikir abad 20 asal Prancis, mengatakan bahwa kekuasaan bukan hanya persoalan di atas takhta politik saja, melainkan sebuah jaringan yang menyebar dan bekerja di setiap celah interaksi kita sehari-hari. Dominasi bisa terus langgeng karena kita tanpa sadar telah mengulang-ulang wacana bahwa menjadi penguasa berarti memiliki hak untuk mengontrol, mendisiplinkan, dan menundukkan orang lain. Wacana ini telah merasuk dan menubuh ke dalam cara kita berpikir, berkeluarga, bekerja, bahkan berorganisasi. Kita mengutuk penindasan, tetapi diam-diam merindukan posisi untuk bisa mendominasi.

       Panggung sejarah manusia selalu mengulang episode pemberontakan orang tertindas terhadap sang penindas. Akan tetapi segera setelah si tertindas memenangkan pertempuran, ia berubah menjadi penindas baru. Lingkaran relasi kuasa semacam ini perlu dihentikan. Tuhan Yesus menawarkan sekaligus merintis jalan untuk mengubah logika kekuasaan. Kekuasaan yang biasanya digunakan untuk mendominasi dan menundukkan, diubah menjadi kuasa untuk  melayani dan mengangkat martabat manusia. Otoritas tidak dibuktikan dengan merendahkan orang lain.

          Pada akhirnya, menjadi pemimpin menurut Tuhan Yesus bukanlah tentang seberapa tinggi kita berdiri di atas orang lain, melainkan seberapa jauh kita bersedia merendahkan diri untuk memanusiakan mereka? Amin. Pdt. MFH


Blog Terkait