Blog

Menolak Berhala, Memilih Setia

Sabtu, 10 Oktober 2026 | Kategori : Kebaktian Minggu

Dibaca : 4

image blog

Keluaran 32:1-14; Mazmur 106:1-6, 19-23; Filipi 4:1-9; Matius 22:1-14

Berhala adalah segala sesuatu yang mengambil tempat, kasih, kepercayaan, dan ketaatan yang seharusnya diberikan kepada Allah. Dalam Perjanjian Lama, istilah ’elohim ’acherim berarti “allah-allah lain” (Kel. 32:1), di mana kata ’acherim menunjuk pada “yang lain” atau “yang berbeda”. Masalahnya bukan sekadar hadirnya sesuatu yang lain, melainkan manusia memberikan kepada ciptaan apa yang menjadi hak mutlak Sang Pencipta. Dalam Perjanjian Baru, konsep ini berkaitan dengan kata theos (Allah) dan heteros (yang lain/berbeda), di mana rasul Paulus mengingatkan bahwa meskipun ada banyak hal yang dianggap allah, bagi orang percaya hanya ada satu Allah yang hidup (1Kor. 8:5–6). Secara etimologis, kata bahasa Inggris idolatry berasal dari kata idol, yang dalam bahasa Indonesia kita kenal sebagai idola; yang artinya sesuatu atau seseorang yang sangat dikagumi, diagungkan, dan menduduki takhta tertinggi dalam hati manusia.

Mengapa berhala harus ditolak dan mengapa kita harus memilih setia? Jawabannya terangkum dalam empat pesan teologis dari bacaan firman Tuhan (leksionari) hari ini, yaitu:

Perama, Jangan menggantikan Allah dengan apa yang dapat dikendalikan (Kel. 32:1–14). Bangsa Israel membuat anak lembu emas saat Musa berada di gunung karena tidak sabar menanti dan ingin memegang kendali atas hidupnya secara instan. Kesetiaan menuntut iman untuk sabar menunggu Tuhan. Kedua, Berhala membuat manusia melupakan karya keselamatan (Mazmur 106:1–6, 19–23). Israel menukar kemuliaan Allah dengan lembu yang makan rumput. Berhala bekerja lewat penggantian, membuat manusia melupakan Sang Pemberi karena terlalu terpikat pada pemberian. Ketiga, Kesetiaan dipelihara melalui sukacita, doa, dan pikiran yang benar (Flp. 4:1–9). Paulus menyerukan agar jemaat berdiri teguh di dalam Tuhan. Hati yang berakar dalam Tuhan tidak akan mudah mencari pelarian atau pengganti kebahagiaan di luar-Nya. Keempat, Jangan menolak undangan Tuhan demi urusan lain (Mat. 22:1–14). Perumpamaan perjamuan kawin menunjukkan banyak orang menolak panggilan raja karena sibuk dengan ladang dan bisnis. Menerima undangan Allah menuntut respons dan kehidupan yang sesuai dengan panggilan-Nya.

Seiring berjalannya waktu, simbol dan makna berhala mengalami pergeseran bentuk di zaman modern. Jika dahulu berhala berupa patung ukiran, kini berhala menyamar menjadi uang, jabatan, karier, bisnis, popularitas, teknologi, hingga kenyamanan hidup. Pemberhalaan pada hakikatnya adalah tindakan mengagumi ciptaan, tetapi abai terhadap Sang Pencipta. Hal ini sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari dan keluarga. Sebagai contoh, orang bisa begitu kagum melihat keindahan sebuah lukisan, tetapi melupakan pelukisnya. Seorang istri begitu mengagumi besarnya gaji suami, namun mengabaikan kehadiran serta kelelahan suaminya sebagai pribadi. Atau sebaliknya seorang suami begitu mengagumi masakan istri, tetapi mengabaikan pribadi istrinya. Demikian pula ketika orang tua terlalu terobsesi menuntut nilai sekolah anak yang sempurna demi ambisi pribadi, tetapi abai terhadap kesejahteraan mental dan kebahagiaan buah hati mereka. Pekerjaan dan uang juga dapat menjadi berhala ketika Tuhan dan keluarga senantiasa mendapat “sisa waktu” dari hidup kita.

            Ketika ciptaan, berkat, atau kesibukan dunia diletakkan lebih tinggi daripada Allah, relasi ilahi dan keharmonisan keluarga pasti akan rusak. Mari kita menolak segala bentuk berhala modern dan memilih hidup setia hanya kepada Tuhan. Kesetiaan di sini tidak cukup diartikan sekadar bertahan saat keadaan mudah, tetapi harus mewujud dalam bentuk keberanian untuk menolak segala bentuk ilusi pengganti Allah di saat kenyamanan hidup mulai goyah. GBU. Pdt. TKK.


Blog Terkait